Kopi Setiap Hari, Minum Susu Kapan-kapan

Jumat, 28 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

| Dok. Istimewa

| Dok. Istimewa

Oleh: Vania Tessalonika Sibarani

Susu adalah salah satu bahan makanan berasal dari hewan, yang sangat penting untuk manusia karena memiliki kandungan gizi yang tinggi.

Meskipun demikian, fakta menunjukkan bahwa konsumsi susu masyarakat Indonesia masih tergolong rendah dibandingkan dengan negara lain.

Menurut data, konsumsi susu nasional rata-rata hanya sekitar 16,27 kg per kapita per tahun, dan sekitar 75 persen masyarakat Indonesia pernah mengonsumsi susu, tetapi hanya 16 persen yang minum setiap hari, jauh di bawah standar yang dianjurkan.

Rendahnya minat masyarakat Indonesia bukan hanya persoalan ekonomi atau harga susu, tetapi juga terkait kuatnya budaya bahwa minum susu bukan kebutuhan pokok.

Seperti negara lain, susu dijadikan sebagai bagian dari sarapan atau camilan harian. Masyarakat Indonesia lebih akrab dengan kopi dan makanan pokok seperti nasi, lauk-pauk, dan sayur, dengan istilah “tidak makan nasi ya tidak makan”.

Susu sering kali dipandang sebagai minuman tambahan, bukan kebutuhan utama seperti minum kopi. Pola makan yang terbentuk sejak kecil inilah, yang membuat kebiasaan minum susu tidak mengakar kuat dalam budaya pangan kita.

Di Indonesia sendiri, banyak keluarga yang belum mengutamakan edukasi gizi, termasuk pentingnya susu sebagai sumber kalsium dan protein.

Sebagian orang tua masih menganggap susu hanya untuk bayi dan balita, sehingga ketika anak memasuki usia sekolah, kebiasaan minum susu mulai ditinggalkan.

Susu sebenarnya tetap memiliki banyak manfaat bagi orang dewasa, terutama dalam menjaga kesehatan jangka panjang, karena susu kaya akan kalsium, fosfor, vitamin D, protein, karbohidrat serta lemak yang dapat membantu menjaga kesehatan tulang, memenuhi kebutuhan protein harian, sumber energi yang baik dan masih banyak manfaat susu bagi kesehatan.

Kurangnya informasi yang mudah dipahami tentang manfaat susu, membuat masyarakat tidak melihat urgensi untuk mengonsumsinya secara konsisten.

Barang Mahal

Bukan hanya kurangnya informasi tentang manfaat susu saja, susu juga sering dianggap sebagai produk mahal, sehingga menjadikan alasan masyarakat enggan membelinya.

Padahal, kini banyak pilihan susu dengan harga terjangkau seperti susu bubuk, susu UHT kemasan kecil, hingga susu evaporasi yang dapat digunakan dalam berbagai makanan.

Dengan persepsi “susu itu barang mahal,” membuat masyarakat cenderung mengabaikan alternatif yang sebenarnya ekonomis dan tetap bergizi.

Adapun ketika tren minuman manis, khususnya kopi kekinian, dan minuman viral terus bermunculan, susu hanya dijadikan sebagai bahan pelengkap atau sampingan, tanpa memperhatikan manfaat susu pada minuman tersebut.

Selain itu, iklan susu di media sering menargetkan anak-anak, bukan keluarga atau orang dewasa. Hal ini yang menyebabkan masyarakat berpikir bahwa susu tidak lagi penting setelah usia tertentu, dan minuman lain dianggap lebih menarik dan modern.

Akar Budaya

Rendahnya konsumsi susu berkontribusi pada masalah gizi yang masih terjadi di Indonesia, seperti risiko kekurangan kalsium, pertumbuhan anak tidak optimal, hingga masalah tulang pada lansia.

Ketika konsumsi pangan hewani rendah dan sumber kalsium lain juga terbatas, tidak adanya budaya minum susu semakin memperparah risiko kekurangan gizi mikro.

Mengubah budaya memang tidak mudah, tetapi bukan berarti mustahil. Edukasi gizi harus diperkuat di sekolah, keluarga, dan komunitas. Industri pangan juga perlu mengemas susu dengan cara yang lebih menarik dan relevan bagi berbagai kelompok usia.

Selain itu, pemerintah dapat mendorong program minum susu harian seperti yang diterapkan di beberapa negara lain, yang tidak hanya terfokus pada usia anak-anak saja.

Budaya tidak biasa minum susu adalah hambatan besar, dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat Indonesia. Selama susu masih dianggap bukan kebutuhan penting, sulit untuk meningkatkan konsumsi yang berkelanjutan.

Dibutuhkan sinergi antara pemerintah, pendidik, industri pangan dan masyarakat untuk membentuk budaya baru, yang lebih sehat dan mendukung perbaikan status gizi bangsa. Lalu pertanyaannya sekarang, apakah kita tim minum kopi atau tim minum susu?

Kota Serang, 27 November 2025

*) Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Teknologi Pangan, Fakultas Pertanian Untirta

Berita Terkait

Peningkatan Transformasi Digital Pendidikan, Adde Rosi Buka Sosialisasi SIBI di Lebak
Pemkot Tangsel Siapkan Bantuan Pendidikan Rp1,8 Juta Per Siswa di 94 SMP Swasta Tahun Ajaran 2026/2027
Bupati Tangerang Dorong Santri Lanjutkan Pendidikan ke Perguruan Tinggi
Lulus Cum Laude, Ida Rosida Raih Gelar Doktor Ilmu Pemerintahan IPDN
Cikande dan Kramatwatu Kembali Dominasi O2SN-FLS3N Kabupaten Serang 2026
Wujudkan Tri Dharma, Dosen FH Unpam Serang Gelar PKM di MA Darul Irfan
Warna-warni Budaya di Fashion Show Halal Bihalal KAHFI BBC Motivator School
Siswa SD Tangerang Harumkan Indonesia, Sabet Medali Perak Science Olympiad di Singapura

Berita Terkait

Selasa, 30 Juni 2026 - 15:03

Peningkatan Transformasi Digital Pendidikan, Adde Rosi Buka Sosialisasi SIBI di Lebak

Rabu, 24 Juni 2026 - 14:55

Pemkot Tangsel Siapkan Bantuan Pendidikan Rp1,8 Juta Per Siswa di 94 SMP Swasta Tahun Ajaran 2026/2027

Senin, 22 Juni 2026 - 09:03

Bupati Tangerang Dorong Santri Lanjutkan Pendidikan ke Perguruan Tinggi

Kamis, 18 Juni 2026 - 03:12

Lulus Cum Laude, Ida Rosida Raih Gelar Doktor Ilmu Pemerintahan IPDN

Kamis, 30 April 2026 - 15:19

Cikande dan Kramatwatu Kembali Dominasi O2SN-FLS3N Kabupaten Serang 2026

Berita Terbaru