Bantenblitz.com – Upaya menghidupkan kembali khazanah budaya Banten terus dilakukan dengan cara yang kreatif dan kekinian. Kali ini, Wayang Nganjor Indonesia menghadirkan pertunjukan bertajuk “Babat Banten”, sebuah karya panggung kontemporer yang mengadaptasi manuskrip Babad Banten ke dalam sajian seni yang memadukan opera, simbolisme, dan dramatika panggung yang kuat.
Tak sekadar menjadi tontonan, pertunjukan ini menawarkan cara berbeda dalam menyampaikan pesan dan nilai-nilai budaya kepada masyarakat. Melalui pendekatan artistik yang segar, Wayang Nganjor Indonesia berupaya menjembatani warisan sejarah Banten dengan generasi masa kini tanpa terikat pada interpretasi sejarah yang baku.
Tirta Nugraha Pratama salah satu inisiator pementasan ini mengungkapkan bahwa tujuan diselenggarakannya pementasan ini salah satunya untuk kembali mengingat masyarakat tentang sejarah kebantenan.
“Alur ceritanya berpusat pada dinamika di Kesultanan Surosowan yang makmur dan kaya akan hasil bumi namun adanya konflik internal sehingga dimanfaatkan kelicikan VOC” ungkapnya kepada wartawan pada Kamis, 4 Juni 2026.
Menurut Tirta, Alur cerita ini akan berpusat pada dinamika di Kesultanan Surosowan yang makmur dan kaya akan hasil bumi di bawah kepemimpinan Sultan Abdul Fatah, seorang sosok yang dikenal sangat adil dan bijaksana terhadap rakyatnya. Namun, kemakmuran pesat dari perdagangan rempah-rempah di pelabuhan Banten tersebut memicu sengketa serta konflik kekuasaan internal yang tragis antara Sultan Abdul Fatah dan putra mahkotanya, Sultan Haji. Retaknya hubungan keluarga ini kemudian dimanfaatkan oleh kelicikan VOC yang datang dengan kedok kerja sama dagang untuk mengadu domba dan berujung pada perampasan hak-hak rakyat.
Tirta pun mengungkapkan bahwa lakon ini di sutradarai oleh Parwa Rahayu dan akan dipentaskan pada tanggal 20 Juni mendatang. Pertunjukan istimewa ini akan diselenggarakan secara langsung di GOR Cikupa, Pandeglang.
Tirta pun berharap masyarakat dapat turut serta dalam menyaksikan pementasan ini, karena selain untuk mempelajari sejarah Banten tapi menghidupkan kembali dunia kesenian, khususnya di Pandeglang.
“Saya berharap masyarakat ikut menyaksikan, selain kembali mengingatkan sejarah juga agar kesenian hidup di Pandeglang.” ujarnya.
Salah satu daya tarik paling unik dari tata penceritaan drama musikal ini adalah penggunaan alur cerita berbingkai. Keseluruhan epik tersebut dituturkan dari sudut pandang Ka Jali, seorang tokoh pelestari dalang Wayang Garing yang di sela-sela rutinitasnya berjualan kopi dan wedang rempah keliling.
Dialog interaktifnya dengan seorang pengusaha peduli budaya menjadi jembatan penuturan yang apik untuk merefleksikan nilai-nilai luhur dari manuskrip Babad Banten ke dalam konteks realitas zaman sekarang. (Red/Adi)












