Bantenblitz.com – Banjir yang melanda sejumlah titik di Kota Tangerang pada Minggu lalu tak hanya menyisakan genangan, tetapi juga tumpukan sampah yang memperparah krisis iklim. Di tengah kondisi itu, sekelompok Gen Z berusia 12–18 tahun justru bergerak cepat. Melalui komunitas Greenfinity, mereka memimpin gerakan “Zero Waste Mission” sebagai respons nyata terhadap dampak perubahan iklim, khususnya persoalan banjir dan limbah rumah tangga yang menjadi penyumbang utama pencemaran lingkungan.
Sejak 2024, tim ini sukses pilah sampah anorganik sebanyak 3.687 kg, melonjak menjadi 4.315 kg hingga akhir 2025 semua dicegah menumpuk di TPA Rawa Kucing. Kolaborasi solid dengan Bank Sampah “Koalisi Peduli Sampah”, KWT Jagadhita, serta Karang Taruna RW 08 Periuk, integrasikan olah sampah organik jadi kompos via maggot, bank sampah digital, dan pertanian urban di lahan sempit Taman Aster RT 07 RW 08, Kelurahan Gebang Raya.
Greenfinity singkatan green(peduli lingkungan) dan infinity (keberlanjutan abadi) kembangkan tanam cabai, tomat, terong, pokcoy, kangkung, kacang panjang, lengkap dengan rumah maggot yang ubah limbah rumah tangga penyumbang gas metana jadi pupuk organik untuk bedengan fasilitas umum.
Gen Z Jadi Garda Terdepan
Tak seperti program lingkungan konvensional, Greenfinity angkat Gen Z sebagai relawan inti. Mereka ikuti pelatihan intensif 31 Januari–1 Februari 2026 di Posyandu Mawar Jingga, RW 08 Kecamatan Periuk, Kelurahan Gebang Raya. Fokus: komposter maggot, bank sampah digital, urban farming di lahan terbatas, plus skill komunikasi untuk bantu warga.
Peserta pelatihan, Filbert Aisy Nuri, menegaskan “Peduli iklim bukan teori sekolah belaka, sampah hari ini bisa jadi pangan esok lewat urban farming,” tegasnya.
Kini, program bergulir kolaboratif lintas generasi: warga suplai lahan dan logistik, remaja dorong pengolahan sampah.
Ketua Greenfinity Rahmat Hidayat juga menekankan, “Ini investasi jangka panjang untuk bangun gaya hidup zero waste, kurangi beban TPA, tambah ruang hijau penyerap karbon. Target utama: bukan cuma lingkungan bersih, tapi ubah pola pikir masyarakat guna pulihkan bumi dari krisis iklim.” pungkasnya. (Red/Difeni)












