Bantenblitz.com – Masalah stunting masih menjadi tantangan serius di Ibu Kota Provinsi Banten pada tahun 2026. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Serang, Ahmad Hasanuddin, mengungkapkan bahwa Kecamatan Kasemen menjadi wilayah dengan angka prevalensi tertinggi, yakni mencapai 766 kasus. Data terbaru ini menjadi dasar pemetaan prioritas intervensi kesehatan di wilayah tersebut.
Sementara itu, Kecamatan Serang berada di urutan kedua dengan 402 orang, diikuti Kecamatan Walantaka sebanyak 325 orang dan Kecamatan Taktakan sebanyak 284 orang.
Untuk wilayah dengan kasus lebih rendah, tercatat Kecamatan Cipocok Jaya memiliki 57 orang kasus stunting, dan Kecamatan Curug dengan jumlah terkecil yaitu 16 orang.
”Itu datanya yang sekarang tahun 2026. Saya gak buka tahun yang lalu ya karena kan mintanya yang terkini,” ujar Hasan, kepada wartawan, Selasa, 14 April 2026.
Menurut Hasan, permasalahan stunting bukanlah kondisi yang muncul secara mendadak, melainkan akumulasi dari pemenuhan gizi yang kurang optimal sejak masa awal kehidupan.
”Stunting itu penyakit yang jauh waktunya, bukan timbul secara instan. Penanganannya harus dimulai sejak 1.000 hari pertama kehidupan, mulai dari janin di dalam kandungan hingga usia dua tahun,” terangnya.
Ia menjelaskan bahwa stunting secara medis didefinisikan sebagai kondisi di mana tinggi atau panjang badan anak tidak sesuai dengan standar usia balita yang seharusnya.
Fase emas atau golden periode ini sangat krusial karena menentukan pertumbuhan fisik dan perkembangan otak anak di masa depan.
”Kalau usia dewasa pendek bukan stunting, bukan ukurannya, karena bisa jadi pengaruh dari olahraga bisa jadi tinggi. Tapi otak ditumbuhkan dari fase golden periode itu 1.000 hari kehidupan,” kata Hasan.
Dalam upaya menekan angka tersebut, Dinkes Kota Serang melakukan berbagai intervensi. Salah satunya adalah menyambut baik program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini menyasar kelompok B3, yaitu ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
”Dulu MBG hanya untuk anak sekolah, sekarang diperluas. Alhamdulillah dampaknya terlihat, masyarakat jadi lebih antusias membawa anaknya ditimbang atau memeriksakan kehamilan ke Posyandu,” ungkap Hasan.
Meskipun demikian, ia mengakui bahwa dampak signifikan dari program ini belum dapat terlihat secara maksimal karena implementasinya belum berjalan satu tahun penuh. Diharapkan dalam dua tahun ke depan, hasil penurunan angka stunting akan lebih nyata.
Selain program MBG, Dinas Kesehatan juga menyalurkan bantuan susu dari pemerintah pusat untuk balita dengan status gizi kurang.
Bantuan ini diberikan melalui Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Serang dan RS Kencana, dengan syarat harus melalui pemeriksaan dan rekomendasi dokter anak terlebih dahulu.
Lebih lanjut, Hasan menjelaskan bahwa distribusi MBG difokuskan di Posyandu, bukan di rumah sakit, agar jangkauannya lebih luas dan tepat sasaran bagi masyarakat.
”Sejak ada MBG di posyandu, alhamdulilah orang-orang pada datang ngajak anaknya mau ditimbang atau yang ibu hamil mau diperiksa,” katanya. (Red/ Roy)












