Bantenblitz.com – Warga Kelurahan Pagerbatu, Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang, digegerkan oleh suara gemuruh keras dari lereng Puncak Gunung Karang pada Senin pagi, 12 Januari 2026. Gemuruh tersebut diduga kuat berasal dari peristiwa longsor di kawasan hutan lindung Gunung Karang.
Longsor serupa pernah melanda lereng gunung itu pada 15 September 2021. Saat itu, peristiwa tak menimbulkan korban jiwa atau rusak permukiman, tapi meninggalkan lereng gundul tanpa vegetasi pelindung.
Ironisnya, lebih dari empat tahun kemudian, upaya rehabilitasi lahan nyaris tak terlihat. Penanaman kembali vegetasi di zona rawan longsor pun mandek, memperlebar risiko longsor susulan.
Kekhawatiran warga terbukti benar. Longsor Senin kemarin meluas, justru di tengah curah hujan tinggi belakangan ini. Situasi ini memicu resah, terutama bagi warga terdekat.
Oman, warga Kecamatan Kaduhejo, mengaku gelisah. “Lereng longsor itu wilayah administratif Kelurahan Pagerbatu, tapi kewenangan Perhutani karena masuk hutan lindung,” katanya saat dihubungi wartawan pada Selasa, 13 Januari 2026.
“Dulu 2021 sudah longsor, sekarang meluas lagi. Warga khawatir banget,” tambahnya.
Oman membandingkan dengan longsor di daerah lain yang berujung banjir bandang atau permukiman tertimbun. “Curah hujan tinggi kini bikin potensi longsor makin mengancam.”
Warga mendesak pemerintah daerah, BPBD, dan pengelola hutan segera inspeksi lapangan serta kajian teknis. “Pemeriksaan dini bisa antisipasi ancaman lebih cepat,” tutup Oman.
Hingga berita ini diturunkan, belum mendapat respons resmi dari Perhutani atau instansi terkait soal penanganan dan mitigasi.( Red/Difeni)












