oleh : Moh Dimas Herian AB
Di era ketika layar digital menjadi “jendela dunia”, Generasi Z tumbuh dalam ritme teknologi yang serba cepat, dikelilingi algoritma cerdas dan arus informasi tanpa batas. Namun, di balik kemudahan tersebut, mengintai tantangan moral yang kian kompleks—mulai dari polarisasi, manipulasi informasi, hingga melemahnya kemampuan refleksi akibat budaya konsumsi konten instan. Pada titik inilah pemikiran Immanuel Kant kembali menemukan relevansinya.
Kant menegaskan bahwa moralitas tidak boleh ditentukan oleh keuntungan pribadi ataupun dorongan emosional sesaat. Ia menawarkan imperatif kategoris: prinsip bahwa setiap tindakan harus dapat dijadikan aturan universal dan senantiasa menghormati martabat manusia sebagai tujuan, bukan sekadar sarana. Di tengah gempuran dunia digital yang sarat dengan jebakan algoritmik, prinsip ini dapat menjadi kompas etika bagi Generasi Z.
Algoritma media sosial bekerja dengan memprioritaskan konten yang memicu perhatian, sehingga tanpa disadari memperkuat bias dan memperlebar polarisasi. Ketika pengguna hanya disuguhi apa yang ingin mereka lihat, ruang untuk berpikir kritis semakin menyempit. Pola ini bertolak belakang dengan etika Kant yang menuntut otonomi bernalar dan pertimbangan rasional. Karena itu, Generasi Z perlu kembali merebut kendali moralnya—bukan sebagai konsumen pasif teknologi, tetapi sebagai individu yang sadar, rasional, dan bertanggung jawab atas setiap tindakan di ruang digital.
Untuk mengurangi polarisasi, Generasi Z harus mengembangkan kebiasaan digital yang sesuai dengan etika Kant: memverifikasi informasi sebelum membagikannya, menghindari ujaran kebencian, dan mengutamakan dialog yang menghormati orang lain sebagai manusia yang bermartabat. Tindakan sederhana seperti menolak menyebarkan hoaks merupakan implementasi nyata dari imperatif kategoris karena menyebarkan kebohongan tidak dapat dianggap sebagai aturan universal bagi masyarakat yang ingin tetap beradab.
Selain itu, Kant juga menggaris bawahi otonomi, yaitu kebolehan seseorang untuk berpikir dan mengambil keputusan dengan moral tanpa pengaruh dari luar. Dalam konteks digital, otonomi berarti tidak sepenuhnya terikat pada algoritma. Hal tersebut dapat dilakukan oleh Generasi Z dengan melakukan manajemen untuk menghadapi dan mengelola informasi, yaitu dengan memilih sumber informasi yang dapat dipercaya, melakukan pengaturan pada waktu penggunaan, menghindari dari konten yang bersifat ekstrem, dan juga mengedepankan interaksi yang lebih positif.
Pada akhirnya, teknologi menimbulkan risiko, tetapi di sisi lain, tidak dapat menjadi penentu moralitas manusia. Pada era digital ini, etika Kant memberi buzzer dan publik figur yang tidak proporsional, martabat manusia tidak boleh dikorbankan untuk hiburan, popularitas, atau kenyamanan algoritma. Sebagai generasi yang paling melek teknologi, Generasi Z berpeluang menjadi yang pertama untuk memberi bukti bahwa ruang digital dapat menjadi ruang yang bermoral, bukan sekadar pengguna teknologi, tetapi sebagai agen moral yang sadar akan tanggung jawab.
Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Administrasi Negara Universitas Pamulang Kampus Serang
Dosen Pembimbing : Angga Rosidin, S.I.P., M.A.P.
Kepala Program Studi : Zakaria Habib Al-Ra’zie, S.Ip,. M.Sos.











