Oleh: Habibah Nur Hikmah
Sarjana Pertanian, Persimpangan Digital, Habibah Nur Hikmah, Teknologi Pangan, Fakultas Pertanian Untirta,
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, sektor pertanian Indonesia berada pada persimpangan jalan yang menentukan.
Data Badan Pusat Statistik tahun 2023 menunjukkan bahwa rata-rata usia petani Indonesia telah mencapai 47-54 tahun, dengan hanya sekitar 12 persen petani yang berusia di bawah 35 tahun.
Fakta ini bukan sekadar angka statistik, melainkan lampu merah yang memperingatkan kita tentang masa depan sektor pertanian nasional.
Sarjana Pertanian
Sebuah riset yang dimuat dalam The Conversation (2022) mengungkap fakta memprihatinkan; sebagian besar mahasiswa pertanian tidak bercita-cita menjadi petani.
Penelitian tersebut mengidentifikasi beberapa faktor penyebab, termasuk persepsi negatif terhadap profesi petani, ketidakpastian ekonomi, dan minimnya daya tarik sektor pertanian konvensional.
Namun, di balik tantangan ini, justru terbuka peluang besar untuk menuliskan babak baru pertanian modern Indonesia.
Bukti bahwa transformasi digital di sektor pertanian bukanlah sekadar wacana sudah mulai tampak. Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPVP) Serang, misalnya, telah memelopori dengan mencetak ahli smart farming berbasis otomasi hidroponik.
Melihat contoh nyata seperti BBPVP Serang, kita sebagai generasi muda bisa mengambil peran lebih luas dengan menghubungkan warisan pertanian tradisional dengan kemajuan teknologi.
Langkah strategisnya adalah menciptakan gelombang transformasi di kalangan mahasiswa pertanian melalui pendekatan digital yang aplikatif, dimulai dari dalam kampus.
Kita perlu menginisiasi gerakan kuat di kampus yang mampu mengubah paradigma lama tentangbertani.
Seperti yang dilakukan BBPVP Serang dengan sistem otomasi hidroponiknya, gerakan ini tidak sekadar memperkenalkan teknologi canggih, tetapi lebih penting lagi menciptakan ekosistem yang memungkinkan teknologi tersebut menyatu dengan praktik pertanian sehari-hari.
Transformasi Digital
Kunci transformasi ini terletak pada membangun platform kolaborasi yang menghubungkan tiga unsur vital;
Mahasiswa dengan riset dan inovasi terbarunya, Petani dengan tantangannya di lapangan, Pelaku Industri dengan teknologi dan sumberdaya terkini.
Platform semacam ini akan menjadi ruang hidup bagi berbagai inovasi, tempat ide-ide segar dari mahasiswa bertemu dengan kebutuhan riil di lapangan.
Seperti program BBPVP Serang yang melibatkan peserta dari berbagai kalangan, kolaborasi semacam ini memungkinkan setiap masalah yang dihadapi petani menjadi bahan penelitian mahasiswa, dan setiap temuan di kampus bisa segera diujicobakan di sawah dan ladang.
Untuk mewujudkannya, kita bisa mendorong berdirinya pusat-pusat inovasi agritech di berbagai kampus pertanian, mengikuti jejak BBPVP Serang yang telah menjadi center of excellence untuk smartfarming.
Inovasii ini akan menjadi wadah dimana mahasiswa bisa bereksperimen langsung dengan drone pertanian, sensor IoT, atau sistem otomasi seperti yang sudah diterapkan dalam sistem hidroponik.
Disinilah teori-teori di kelas akan menemukan bentuk nyatanya. Mahasiswa tidak hanya belajar tentang konsep precision farming, tetapi benar-benar mempraktikkannya dalam skala kecil sebelum diterapkan di lahan yang lebih luas.
Agar gerakan ini dapat diterima oleh berbagai kalangan, kolaborasi dengan jurusan ilmu komunikasi menjadi sangat penting untuk membantu menyampaikan inovasi dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat.
Pendekatan bottom-up dengan langsung turun ke desa, bertemu komunitas tani, dan memahami karakteristik lokal akan membuat adopsi teknologi berjalan lebih efektif.
Riset The Conversation mengonfirmasi bahwa masalah regenerasi petani memang nyata. Namun, justru inilah saatnya kita membalik narasi.
Dengan menunjukkan bahwa pertanian modern menawarkan prospek karir yang menjanjikan dalam bidang agritech, precision farming, dan agricultural data analysis, kita dapat mengubah persepsi negatif yang selama ini melekat pada profesi di sektor pertanian.
Pada akhirnya, semua upaya ini bermuara pada satu tujuan besar: menjadikan pertanian sebagai bidang yang menarik, membanggakan, dan berkelanjutan bagi generasi muda.
Seperti yang ditunjukkan BBPVP Serang dengan program smartfarming-nya, pertanian masa depan bukan lagi tentang mencangkul di bawah terik matahari, melainkan tentang mengelola data tanaman melalui gawai cerdas, menganalisis pertumbuhan tanaman melalui sensor, dan menciptakan sistem irigasi otomatis berbasis IoT.
Transformasi ini membutuhkan dukungan semua pihak pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat. Mari wujudkan bersama pertanian Indonesia yang modern dan berkelanjutan.
Inilah wajah baru pertanian Indonesia yang siap bersaing di era digital; tetap berakar pada kearifan lokal, namun terbang tinggi dengan sayap teknologi.
Bersama-sama, kita bisa mengubah tantangan menjadi peluang emas untuk membangun ketahanan pangan Indonesia, yang lebih maju dan mandiri, sekaligus menjawab kekhawatiran tentang masa depan regenerasi petani Banten dan Indonesia.
Kabupaten Tangerang, 24 November 2025
*) Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Teknologi Pangan, Fakultas Pertanian Untirta












