Bantenblitz.com – Lantunan selawat dan bait-bait kitab klasik menggema dari sebuah majelis ilmu sederhana di Lingkungan Samangraya, Kelurahan Citangkil, Kota Cilegon, menjelang pergantian tahun baru 2026.
Di tengah arus modernitas, puluhan santri cilik menunjukkan komitmen menjaga tradisi keilmuan Islam dengan menyetorkan hafalan kitab klasik, bertepatan dengan momentum menyambut kemuliaan Bulan Rajab dan Haul Abah Guru Sekumpul (Martapura).
Sekira 30 santri cilik tersebut menyetorkan hafalan Kitab Aqidatul Awam, yang memuat dasar-dasar akidah Islam, serta Hidayatus Shibyan sebagai pengantar ilmu tajwid.
Kegiatan ini diprakarsai oleh tokoh pemuda setempat, Ustadz Ardi Nurul Fajri, yang konsisten memilih jalan dakwah meski dengan fasilitas yang terbatas. Baginya, keterbatasan ruang bukan alasan untuk berhenti menanamkan nilai-nilai keislaman kepada generasi muda.
“Kami ingin menunjukkan bahwa di tengah hiruk-pikuk Kota Cilegon, masih ada tunas-tunas muda yang mencintai ilmu agama. Perayaan tahun baru kami bukan dengan hura-hura, tetapi dengan mendekatkan diri kepada Allah melalui wasilah kitab-kitab para ulama,” kata Ustadz Ardi, Rabu malam, 31 Desember 2025.
Sementara itu, Ketua Dewan Kebudayaan Kota Cilegon, Ayatullah Khumaeni mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia menilai kegiatan ini sebagai bentuk nyata pelestarian budaya religius di tengah kota industri.
“Apa yang dilakukan para santri cilik dan para penggerak majelis ini merupakan bagian penting dari kebudayaan kita. Tradisi menghafal kitab, majelis ilmu, dan adab keislaman adalah warisan tak benda yang harus terus dijaga,” ungkap Ayatullah Khumaeni.
Ia berharap, di tengah modernisasi dan industrialisasi di Kota Cilegon, kegiatan santri cilik menjadi penanda bahwa identitas spiritual dan kebudayaan religius masyarakat masih hidup dan tumbuh.
“Para santri memilih sambut tahun baru dengan lantunan selawat bukan dengan kembang api,” ungkapnya. (Red/Arise)












