Musim Tanam Kedua, Serangan Penyakit Kresek Ancam Puluhan Hektare Sawah di Kabupaten Serang

Jumat, 20 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Salah satu petani di Desa Kadikaran, Kecamatan Ciruas, Rasyid (58) saat diwawancarai wartawan l Dok. Dwi MY-BNC

Salah satu petani di Desa Kadikaran, Kecamatan Ciruas, Rasyid (58) saat diwawancarai wartawan l Dok. Dwi MY-BNC

BantenBlitz.com – Memasuki musim tanam padi kedua di Kabupaten Serang, Provinsi Banten, sejumlah petani menghadapi tantangan serius akibat serangan penyakit kresek yang menyerang tanaman padi berumur sekitar 20 hari.

Penyakit ini, yang secara ilmiah dikenal sebagai hawar daun bakteri, disebabkan oleh bakteri Xanthomonas Oryzae dan dapat menyerang padi pada semua fase pertumbuhan, mulai dari bibit hingga tanaman dewasa.

Pantauan di lapangan menunjukkan adanya perubahan warna secara signifikan pada daun padi yang seharusnya masih hijau segar. Puluhan hektare lahan sawah di daerah tersebut tampak menguning di bagian ujung daun, memperlihatkan gejala awal serangan.

Wilayah yang paling parah terkena adalah di desa Kadikaran, Kecamatan Ciruas, di mana kondisi tanaman kini hampir menyerupai pemandangan menjelang panen, padahal usia tanaman masih sekitar 20 hari.

Salah satu petani setempat, Rasyid (58), mengungkapkan kekhawatirannya. “Awalnya ujung daun padi akhir pekan lalu tampak subur menghijau, sekarang sudah berubah warna menjadi kuning,” ujarnya saat diwawancarai wartawan, Jumat, 20 Juni 2025.

Ia menambahkan bahwa petani telah melakukan berbagai upaya seperti penyemprotan dengan berbagai jenis pestisida dan saprodi, namun tanda-tanda tanaman kembali subur belum terlihat.

“Saya khawatir kalau serangan terus berlanjut dan tidak teratasi, hasil panen akan menurun drastis. Ini berpotensi mengancam ketersediaan beras di daerah ini, yang selama ini bergantung pada hasil panen dari sawah,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa persoalan ini menjadi tantangan besar, terutama saat memasuki musim tanam kedua yang biasanya mengandalkan hasil dari panen sebelumnya untuk modal dan keberlanjutan kehidupan petani.

Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan usaha tani dan ketahanan pangan lokal. Pemerintah daerah dan dinas terkait di Kabupaten Serang diharapkan dapat segera melakukan langkah-langkah strategis untuk memitigasi penyebaran penyakit ini agar tidak semakin meluas dan merugikan petani serta masyarakat luas.

“Lebih sulit lagi menghadapi musim tanam kedua yang biasanya bermodal dari hasil panen kali ini. Ini persoalan serius kelangsungan dan keberlanjutan pendapatan petani,” pungkasnya. (Red/Dwi)

Berita Terkait

Indagkop UKM Kota Tangerang Buka Pelatihan Digitalisasi UMKM 2026
Hadiri BCF, Wali Kota Serang Dorong Brand Lokal Jadi Motor Ekonomi
Jelang Lebaran, Warga Serbu Pertokoan Royal Baroe Kota Serang pada Malam Hari
Sidak Pasar Modern BSD, Pemkot Tangsel Temukan Kandungan Bahan Berbahaya pada Makanan
Perpres Alih Fungsi Sawah Dinilai Ancam Investasi Properti Hingga Triliunan Rupiah
Apem Putih Khas Cimanuk Jadi Primadona Takjil Ramadan di Pandeglang
Bazar Ramadan Tangsel Ramai Diserbu Warga, Harga Lebih Terjangkau
PT Niaga Citra Mandiri Ekspor Perdana 76 Ton Bumbu Masak ke Arab Saudi

Berita Terkait

Jumat, 3 April 2026 - 17:09

Indagkop UKM Kota Tangerang Buka Pelatihan Digitalisasi UMKM 2026

Selasa, 17 Maret 2026 - 02:08

Hadiri BCF, Wali Kota Serang Dorong Brand Lokal Jadi Motor Ekonomi

Senin, 16 Maret 2026 - 04:27

Jelang Lebaran, Warga Serbu Pertokoan Royal Baroe Kota Serang pada Malam Hari

Rabu, 11 Maret 2026 - 16:54

Sidak Pasar Modern BSD, Pemkot Tangsel Temukan Kandungan Bahan Berbahaya pada Makanan

Rabu, 11 Maret 2026 - 16:39

Perpres Alih Fungsi Sawah Dinilai Ancam Investasi Properti Hingga Triliunan Rupiah

Berita Terbaru